Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Heboh Business Gathering di FE UNAIR

13.4.09 0 comments

Surabaya | 24-Feb-2009

Heboh Business Gathering di FE UNAIR

image

Business Gathering Meningkatkan Jiwa Entrepreneurship Mahasiswa Manajemen FE UNAIR SURABAYA - Departemen Manajemen Universitas Airlangga mencanangkan sebagai Entrepeneur Year pada tahun ini.

Business Gathering merupakan program yang dilaksanakan setiap bulannya. Business Gathering yang pertama diadakan di Aula Tirto bekerja sama dengan bank Mandiri dengan tema “pembiayaan usaha kecil menegah” Business Gathering yang ke-2 dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2009, di aula K.R.T Fadjar Notonegoro, FE Unair.

Kali ini acara Business Gathering bertema “Sharing Pengalaman bisnis” dengan pembicaranya adalah Drs. Sugiat, Ak dan Andi Sufariyanto, sedangkan Tuanku Aria Auliandri MSc sebagai moderatornya.

Acara ini dihadiri oleh peserta yang terdiri dari Mahasiswa S1 dan D3 Manajemen FE Unair. Tujuan dari Business Gathering ini adalah memotivasi, dan menambah wawasan tentang kewirausahaan. Kesempatan pertama, Bapak Sugiat menceritakan pengalamannya.

Pada awalnya, beliau yang juga berprofesi sebagai dosen akuntansi FE Unair ini membeli tanah berukuran 7x14 m serta membeli sertifikat seharga Rp 70.000,- dengan nilai total Rp 3.500.000,-. Beberapa waktu kemudian tanah tersebut dijual, dan berhasil dibeli orang sebesar Rp 10.000.000,-. Sejak saat itulah beliau mulai mencari modal untuk membuka usaha.

Beliau menyadari bisnis inilah yang tepat dan merupakan petunjuk dari Tuhan. Bermodal dengan ijasah manajemen dan akuntansi, dosen yang telah mengajar selama 40 tahun ini berhasil memperoleh uang pinjaman sebesar Rp 150.000.000,-, dan berhasil membuka lapangan usaha. Saat ini, bisnis yang sedang dijalani adalah bisnis properti (real estate).

Berikut ini tips bagaimana berwirausaha dari beliau :

1) Dalam berbisnis ada 2 perilaku sederhana, yaitu nakal dan jujur. Nakal dalam artian utang pada bank, sedangkan jujur menjadi orang yang dapat dipercaya oleh partner / klien.

2) Apabila bisnis yang dijalani telah berhasil jangan lupa beramal, karena bisnis & amal saling mengisi.

3) Networking yang luas.

Pembicara kedua adalah bapak Andi Sufariyanto, owner Adila Group dan Dannis Collection. Pria berkelahiran Padang ini, memulai awal bisnisnya saat semester 3-4 (tahun 1999), ketika kuliah di D3 mesin ITS. Bisnis yang ia jalani adalah jual beli HP (sebagai makelar) dengan modal Rp 200.000 dan servis HP pada tahun 2003. Bisnis tersebut akhirnya tutup. Pada tahun 2004, bersama ke-8 temannya dengan bermodal tiap orang Rp 500.000 mereka membuka CV dan akhirnya tutup juga.

Dalam waktu 5 tahun, pria yang saat ini sedang menjalani produk kecantikan & advertising berhasil menutup 5 usaha. Tak pantang menyerah, pada tahun 2006 ia membuka usaha Dannis Collection; tahun 2007 membuka PourVous yang pada bulan Maret 2009 nanti akan ekspor ke Afrika; dan pada tahun 2008 membuka Adila Group untuk unit usaha bisnis. Bisnis ini masih berjalan sampai sekarang dan terus berkembang.

Acara ini disambut dengan antusiasme yang tinggi, hal ini terbukti dengan penuhnya aula K.R.T Fadjar Notonegoro dan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. Bahkan salah satu narasumber merasa terkesima dengan opening act yang dilakukan panitia sebelum acara dimulai. “baru kali ini saya mengikuti seminar serasa clubbing” tutur Andi Sufarianto. Tepat pada pukul 11.30 acara Business Gathering usai, dengan pemberian plakat kepada bapak Sugiat dan Andi Sufariyanto. Pada bulan Maret akan diadakan lagi Business Gathering dengan tema “Permodalan” dan pembicara dari Bank Panin.

Edited from : http://www.management-unair.info/index.php?option=com_content&view=article&id=50&Itemid=78

Radio dan seminar

25.3.09 0 comments
Naskah ini merupakah salah satu apresiasi saya pada Bu Diah Yusuf dan rekan-rekan Panitia Milad III TDA. Seluruh lini publikasi dimasuki oleh para panitia. Termasuk diantaranya yaitu radio.

Menjelang Milad III TDA, saya diundang untuk berpartisipasi dalam talkshow di Otomotion FM 97,5 FM. Sebuah radio yang menjadi anak perusahaan Kompas Gramedia Group.

Temanya seputar cara memulai bisnis dan mengelolanya, sekaligus ajakan untuk menghadiri Milad III TDA. Rupanya, sudah banyak generasi muda yang sebenarnya tertarik untuk berbisnis, tetapi mereka belum tahu bagaimana caranya.

Demikian simpulan sementara saya setelah turut serta dalam talkshow yang diadakan pada 22 Februari 2008 itu. Dengan semakin menurunnya kesempatan kerja, menjadi pengusaha pada awalnya bisa dijadikan alternatif untuk bekerja.

Muda-muda mulai usaha
Pertanyaan-pertanyaan yang masuk kebanyakan berasal dari para muda yang masih berstatus mahasiswa dan perlu dicatat bahwa pertanyaannya pun sudah bukan ‘bagaimana memulai bisnis’.

“Pertanyaan mereka sudah mengarah kepada bagaimana cara mengembangkan bisnis. Inilah bukti konkrit bahwa saat ini semangat untuk berbisnis sudah tumbuh subur pada usia-usia yang masih sangat muda.”

Tentu ada juga yang masih kebingungan bagaimana memulai usaha. Kebingungan apa yang kerap dilontarkan? Beberapa pertanyaan yang dikemukakan oleh pemirsa Otomotion FM rata-rata berkutat tentang bagaimana cara mendapatkan modal tambahan untuk mengembangkan usaha mereka.

Kala itu, saya mengajukan jawaban-jawaban berikut ini: pergunakan modal yang ada, kalau memang tidak ada modal, harus berani start small. Lantas jangan terlalu idealis dan buang gengsi jauh-jauh.

Modal juga bisa ditimba dari trik menekan gaya hidup berlebihan. Jadi keuntungan yang dikumpulkan tidak langsung dibelanjakan, tapi diputar dulu menjadi modal.

Disini dibutuhkan kesabaran agar jangan terlalu cepat pengen mendapatkan hasil. Saat itu saya nyatakan: Nikmati prosesnya...

Intinya adalah ikhlas. Orang bisa stress karena dia tidak rela menerima dengan apa yang dia alami. Dia ingin memaksakan segala sesuatu itu sesuai dengan kehendaknya. Walaupun ternyata apa yang dia inginkan itu belumlah tentu baik buat dia kelak.

Saya percaya bahwa Allah SWT sudah memilihkan yang terbaik buat saya. Walaupun saat itu mungkin kehendak saya tidak sejalan dengan takdir yang Allah SWT berikan.

Bila diringkas, intinya adalah selalu ikhlas dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Karena apapun yang kita alami, maka hal itu adalah kejadian terbaik yang dipilihkan oleh Allah SWT untuk kondisi kita saat itu. Simpel khan?

Selain soal permodalan, para penanya juga kerap menggali tips marketing. Saat itu saya memberi masukan pada mereka untuk mencari ilmu dengan membaca buku, menyimak pengalaman orang, ikut seminar, dan lain-lain.

Hasil dari berburu ilmu marketing ini, mesti langsung dicoba satu-satu. Diantara hasil praktek itu tentu ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Strategi marketing yang berhasil harus dipertahankan. Sedangkan yang gagal, singkirkan saja sambil mencari cara baru lagi.

Sempat terbesit, mengapa Otomotion FM tertarik menggandeng TDA pada talkshow itu. Namun saya tersadar bahwa semua media telah menangkap demand masyarakat untuk memperoleh informasi yang lebih luas mengenai bagaimana caranya menjadi seorang entrepreneur.

Oleh karena itu media sekarang sangat membutuhkan figur-figur pelaku bisnis yang bersedia untuk sharing dengan audience mereka. Sebelum ini, ternyata program talkshow ini pun sudah mengundang banyak member-member TDA untuk hadir di Otomotion FM.

Alhamdulillah...dari talkshow ini TDA dan Otomotion FM sepakat bahwa sharing-sharing yang telah dilaksanakan layak untuk diteruskan.

Tindak lanjut dari kerjasama ini sangat berarti karena menjadi jalinan simbiosis-mutualisme. “Bagaimanapun setiap bisnis memerlukan publikasi dari media dan media akan selalu membutuhkan narasumber.”

Seperti talkshow-talkshow sebelumnya, saya merasa enjoy dengan suasana talkshow di Otomotion FM. Ada perasaan nikmat pada saat kita berbagi kepada orang lain, apapun itu bentuknya.

Rupanya beberapa peserta talkshow itu berlanjut menjadi lead-nya Adila Group. Beberapa diantara mereka masih bisa saya lacak, karena mereka menghubungi saya. Sebagian lain tak terlacak dan kebanyakan mereka langsung menghubungi General Manager (GM) saya.

Bahkan beberapa diantara mereka, saya ketahui dari GM. Alhamdulillah, silaturahmi terus berlanjut. Bertambah lagi nikmat yang mesti kita syukuri yakni bertambahnya saudara dari silaturahmi ala talkshow.

Dalam waktu dekat saya diundang sharing ke Malang oleh EU Malang, trus pada 30 April 2009 talkshow di Stikom Surabaya. Dilanjutkan 4 April 2009 diundang ke Universitas Jember.

Disini saya baru merasakan bahwa talkshow dengan format seminar ternyata lebih enak dibandingkan di radio. Bukan bermaksud meremehkan radio lho...

Saat seminar, ada interaksi yang intens antara narasumber dengan audience. Saya bisa mengubah style sesuai mood pesertanya. Sementara di radio kurang leluasa melakukan hal itu. Kita harus taat pada rundown dari penyiar.

Benang merah talkshow
Ada benang merah dari tiap materi yang saya disampaikan di tiap talkshow; bahwa kalau mau jadi pengusaha ya langsung action. Tak usah terlalu banyak alasan. Siapkan targetnya, tapi nikmati prosesnya.

Jangan cari yang instan. Namun bukan berarti saya melarang untuk menjadi pewaralaba. Jangan dikira mengambil waralaba gampang lho... Banyak franchisee yang gagal justru gara-gara mereka sendiri yang belum siap.

Mengambil franchise termasuk juga proses pembelajaran. Jadi nikmati aja...

Entah untung atau rugi, jalani dan nikmati prosesnya. Tapi tetap hitungannya sebab ada perbedan besar antara optimis dan bunuh diri. Contoh gampangnya, kalau kita pas naik mobil dan di depan ada jurang, kita khan ngga perlu harus masuk jurang dulu sebelum ambil keputusan untuk ngerem. Jadi tetap ada hitung-hitungannya.

Berarti ada hal-hal yang kalau kita mau berpikir dan belajar harus diwaspadai dan dipahami. Jangan asal jalan dan asal tabrak.

Kini kesadaran berbisnis telah menjalari berbagai kalangan. Kesadaran akan pentingnya jiwa entrepreneurship sudah diinsyafi oleh semua orang. Mulai yang muda hingga yang sedang menyongsong pensiun dari kantornya.

Saat ini semakin banyak perusahaan yang mempersiapkan para karyawannya yang menjelang pensiun dengan bekal entrepreneurship. Beberapa waralaba bahkan membidik para calon pensiunan sebagai calon pewaralaba.

Kembali pada talkshow, acara ini merupakan acara rutin dan pada kesempatan itu khusus mengangkat tentang Milad III TDA. Rupanya publikasi di radio ini cukup efektif dalam menambah jumlah peserta Milad II TDA.

Beberapa pemirsa radio ini bergegas mendaftar Milad III TDA. Nambah lagi dech saudara yang berminat wirausaha. Jadi, saya tunggu kabar dari rekan-rekan yang sedang memulai berbisnis...c u @ the top...

Dua Gaya Bisnis ala Dua Pendekar Bisnis

14.3.09 0 comments
Beberapa waktu lalu saya menyaksikan sekaligus berguru langsung kepada dua pendekar bisnis tanah air: Sudhamek Agung-CEO Garudafood dan Irwan Hidayat-Presiden Direktur Jamu Sidomuncul. Dua pengusaha ini sangat kondang sebab mampu mengantarkan perusahaannya menjadi ladang penghidupan ribuan orang.

‘Ini salah satu impian saya memiliki ribuan karyawan. Artinya kita telah memberi manfaat pada sekian banyak orang’ Acara meguru ini diselenggarakan oleh Bank Mandiri sebagai follow up bagi finalis Wirausaha Muda Mandiri (WMM).

Beberapa finalis WMM tahun 2007 dan 2008 mengikuti acara boot-camp bertajuk Ethics for Enterpreneurs ini. Selama empat hari mulai 19-22 Januari 2009, sederet pengusaha serta akademisi handal terlibat didalamnya.

Berikut ini beberapa mentor kami: staf pengajar MM-FEUI yaitu Biakman Irbansyah, Gede Harja Wasistha, dan Yanki Hartijasti. Tentu tak ketinggalan sang kreator acara ini: Rhenald Kasali. Selain itu juga ada Rektor Universitas Negeri Islam (UIN) Komaruddin Hidayat, Presiden Direktur American International Group (AIG) Indonesia Harry Diah, dan dua pengusaha yang sudah saya sebut diatas: CEO Garudafood Sudhamek dan Presiden Direktur PT Sidomuncul Irwan Hidayat.

Kembali pada dua pendekar. Selama empat hari itu saya merenungkan dua gaya bisnis dipertontonkan oleh dua pendekar pilih tanding. Gaya knowledge-based versi Pak Sudhamek dan gaya otak-kanan ala Irwan Hidayat.

Pak Sudhamek menyodorkan sederet praktek bisnis yang memiliki akar teori sangat kuat. Seolah-olah bisnis menjadi sangat rumit. Namun dia mampu menyajikan dalam bahasa yang cukup luwes sehingga kerutan kening para peserta sebanding dengan pencerapan ilmu yang didapat. Semua serba terencana.

Semua serba dipersiapkan dengan landasan teori matang sehingga setiap sisi yang diaplikasikan benar-benar memiliki bobot pengetahuan. Babak baru bisnis berlandaskan pengetahuan, saya saksikan langsung dari beliau. Diluar kematangan berteori itu, ada nafas religius saat Pak Sudhamek mengulas bagaimana perusahaannya bisa eksis hingga hari ini. Dari omzet Rp18 miliar pada 1992, tembus menjadi triliunan rupiah.

Dalam penuturannya, perusahaan bisa besar bila atasan dan bawahan bersatu. Sebagai orang Buddhis, Pak Sudhamek menerapkan pendekatan spiritual dan empiris dalam memimpin perusahaannya. Spiritual Organization, demikian visi Pak Sudhamek terhadap perusahaannya. Bagi sebagian besar pebisnis, wacana spiritualitas dalam bisnis memang baru-baru ini saja mencuat. Namun Pak Sudhamek telah menerapkannya. Dua ilmu, telah saya serap: knowledge-based business dan spiritual organization. Dua ilmu telah terbukti ampuh hingga Garudafood memiliki karyawan 19.000 orang.

Hal sebaliknya disajikan oleh Pak Irwan Hidayat. Dengan segala kesederhanaannya, dia menyampaikan berbagai pengalaman bisnisnya yang mengalir begitu saja. Menjalani semua yang dihadapinya.

Presdir PT Sidomuncul ini menegaskan bahwa menjalankan perusahaan harus berdasarkan empati. Saat ini ada kecenderungan setiap orang yang dipercayai menjalankan perusahaan masih bertindak one man show. Hal ini sangat riskan jika masih dipakai menjalankan perusahaan.

Pak Irwan Hidayat senantiasa membuka akses informasi bagi setiap karyawannya. Cara ini dipakai agar dirinya mengetahui kemauan setiap karyawan yang dianggap juga sebagai saudaranya. “Kalau mau menjadi orang sukses harus tahu dan mengerti kemauan orang jangan sekali-kali one man show,” katanya.

Lantas dimana saya berdiri? Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada keduanya. Saya lebih cenderung menyukai praktik Pak Sudhamek. Kecenderungan untuk selalu mempelajari setiap detail bisnis, saya sadari lekat dalam tiap langkah bisnis saya.

Tentu contoh yang dilakukan Pak Irwan sangat bagus juga untuk ditiru, yang penting khan berwirausaha.

Mau gaya Pak Sudhamek atau Pak Irwan, sama saja. Mereka telah menebar rahmat.

Mengenai boot-camp sendiri, Pak Rhenald Kasali telah menyajikan satu training yang cukup mencerahkan. “Berbisnis tidak hanya memaksimalkan profit,” tutur beliau. Inilah Rumah Perubahan ala Rhenald Kasali bagi para entrepreneur muda...

Hal senada diungkap oleh Rektor Universitas Negeri Islam Komaruddin Hidayat dalam menyampaikan etika berbisnis. Menurutnya, untuk menuju bisnis yang sukses setiap orang harus juga memaksimalkan kebahagiaan. “Kalau berbisnis tidak bahagia, apa artinya menjalankan bisnis?” tukas Komaruddin.

Peserta boot-camp juga diingatkan kembali mengenai determinasi dalam berbisnis. Panitia menyajikan film Pursuit of Happiness yang dibintangi Will Smith, sesi ini dipandu Gede Harja Wasistha dan Biakman Irbansyah. ‘Inilah film yang menegaskan keteguhan mental seseorang bisa menaklukkan semua rintangan menuju cita-citanya’

Terakhir, terima kasih buat Bank Mandiri yang support-nya sangat besar bagi kami para finalis WMM. Bahkan saya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan salah satu lini bisnis saya: POURVOUS. Kami diberi peluang mengikuti sejumlah pameran secara gratis. Pada kesempatan lain, saya akan ceritakan tentang semua anugerah Tuhan ini. (HM2/HM1)

Bpk Sudhamek

Bersama Rhenald Kasali

Bersama Bpk Irwan Hidayat

Bersama Bpk Harry Diah

Para Finalis WMM

Bersama Bpk Komaruddin Hidayat

Bersama Bpk Komaruddin Hidayat

Berbisnis dengan etika by Rhenald Kasali



Peluang adalah apa yang tak dilirik orang

10.3.09 1 comments
Seeing is believing… kira-kira demikian yang saya alami beberapa minggu lalu saat menempuh safari bisnis ke Sumatera. Maklum beberapa media massa sejak lama telah melansir berita bahwa harta di daerah sangat berlimpah. Hasil liputan dari reporter-reporter itu sebenarnya cukup menggambarkan bagaimana denyut bisnis di daerah.

Muncul rasa penasaran. Akhirnya saya menyaksikan langsung dan langsung percaya hasil liputan-liputan itu. Jadi, saya bersaksi bahwa duit di daerah sangat berlimpah. Lampung dan Palembang menjadi tempat persaksian saya. Jangan bayangkan bahwa hanya kota tempat duit menumpuk. Sumber daya alam di daerah menjadi ihwal bagaimana duit melimpah di sana.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan ke Lampung dan Palembang. Kesaksian saya diatas merupakan hasil dari perjalanan tersebut. Bila di Lampung, saya menyaksikan orang-orang kaya bersahaja tapi tinggal jauh di pelosok. Maklum, mereka adalah petani-petani perkebunan sawit yang lahannya mencapai ribuan hektar.

Salah seorang pengusaha perkebunan sawit yang saya temui, menjamu saya dengan mengendarai mobil sekelas Taft GT saja. Padahal omzet bisnisnya tembus angka miliaran rupiah.

Disini saya melihat perbedaan antara pengusaha di kota (misalnya di kota-kota besar di Jawa) dengan di pedesaan. Para pengusaha kakap yang tinggal di pelosok bumi ini memutar bisnisnya dengan tarikan nafas bisnis yang panjang sekaligus besar. Berinvestasi di Lampung dengan membuka lahan tambak hanya dengan 6 petak saja bisa menelan dana hingga Rp2 miliar.

Padahal pemandangan yang disaksikan dari bisnis senilai miliaran rupiah ini berwajah desa sekali. Maksudnya, tak ada suasana glamor khas urban disini. “Ibaratnya satu tarikan nafas pebisnis di daerah sangat panjang dan ketika tiba saat memanen, maka hasilnya pun sangat besar. Sementara tarikan nafas pebisnis di perkotaan umumnya pendek dengan mengandalkan putaran omzet yang cepat” Jadi, kepintaran memutar modal yang dimiliki merupakan kunci pengusaha di perkotaan.


Sementara saat saya mengunjungi Palembang, saya menangkap nuansa berbeda. Aroma urban lebih kental disini. “Misalnya, saat saya berkeliling di mall yang mulai bertebaran di Palembang, sangat suasananya sudah mendekati suasana mall di Surabaya yang kelas Royal Plaza atau ITC Mega Grosir.”

Pakaian pengunjungnya? Modis. Tak beda jauh dengan penampilan saudara-saudara kita yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya. (Tapi bisa jadi suasana ini hanya muncul kala malam minggu saja. Kebetulan saya berkunjung pada saat malam minggu).

Kota dan desa akhirnya hanya menjadi kategori geografis saja. Secara demografis, masyarakat di dua kawasan ini sudah nyaris sama. Mode fashion hingga kegemaran penduduknya tak beda jauh. Sebagaimana gaya hidup kelas menengah, para pengunjung mall di kota Empek-empek tak hanya melakukan window shopping. Mereka berbelanja. Dan toko-toko yang dituju oleh mereka adalah tenant-tenant kelas internasional yang menyerbu mall-mall tersebut, seperti Bodyshop dll.

Menjamurnya mall di Palembang dimulai sejak diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang. Dari sini akselerasi bisnis Palembang menjadi lebih cepat. Bisa jadi ini terkait dengan semakin bagusnya kualitas infrastruktur. Ya... biasanya penyelenggaraan acara nasional seperti PON selalu diiringi dengan perbaikan berbagai infrastruktur daerah.

Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur oleh pemerintah menjadi stimulus bisnis di kota ini. Hal ini pula saya jumpai di Lampung. Pembangunan infrastruktur menjadi penggerak perekonomian di daerah yang terkenal dengan tambak udang terbesar se-Asia Tenggara-Dipasena ini.

“Disini, kejelian seorang konglomerat tampak. Ciputra rupanya tidak menunggu infrastruktur dibangun terlebih dahulu. Justru dia menabung sebanyak mungkin lahan untuk bisnis real estate di Lampung. Tentu dengan harga murah sebab daerahnya tak terjangkau pembangunan infrastruktur, baik jalan ataupun jembatan.”

Setelah land bank (tabungan lahan) menumpuk, rupanya bertepatan dengan pembangunan akses jalan dari lahan yang dikuasainya yang langsung menuju sebuah pelabuhan berkelas internasional. Lagi-lagi pelabuhan atau infrastruktur ini baru-baru saja pembangunannya. Entah, apakah jalur yang langsung menuju pelabuhan internasional itu dibangun karena lobi Ciputra atau bukan.

Namun yang pasti, Ciputra telah berbelanja tanah saat harganya murah yang saat sekarang harganya telah melonjak. Padahal orang lain bisa jadi enggan melirik atau bahkan membeli lahan di daerah tersebut. Saya akhirnya tersadar bahwa pengusaha selalu mengambil kesempatan sebelum orang kebanyakan melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis. Ciputra mendahului membeli tanah di sekitar sana. Padahal orang lain baru-baru saja membeli tanah disana, tentu dengan harga lebih mahal.

Peluang bisa diciptakan, jangan melihat peluang setelah orang lain menciptakan peluang tersebut. Sebab itu bukan peluang emas. Itu adalah peluang tembaga. “Segera bertindak dan kondisikan apa yang ingin dicipta sebagai peluang,” gumam saya dalam hati menginsyafi action Pak Ciputra. Takdzim buat Pak Ciputra. (HM1)

Sumber : Andi Sufariyanto, CEO PT Adila Imperium

Video Preview WMM 2008

5.2.09 0 comments


Video ini ditayangkan pada saat Grand Final Wirausaha Muda Mandiri yang diadakan oleh Bank Mandiri dan dihadiri olah Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.

Acara Halal bi Halal TDA

20.11.08 0 comments
Perjalanan menuju Bandung dalam rangka Halal Bi Halal komunitas TDA yang diadakan di Bandung diisi dengan suasana kekraban yang sangat kental. Sebuah bus pariwisata sengaja disewa untuk mengantar para member TDA khususnya yang berdomisili di Jabotabek ke Bandung. Selama perjalanan, Pak Agus Ali dan Pak Iim sukses membuat suasana di dalam bus menjadi hidup dengan guyonannya, khususnya pada saat mengingat kembali perjalanan para member2 TDA 2 tahun yang lalu.


Sesampai di tempat HBH diadakan (Daarut Tauhid) , ternyata acara telah dimulai dan pengunjungnya sudah membludak. Para pembicara seperti Pak Amri , Pak Jamil Azzaini dan penyelenggara (Thanks to Pak Fauzi dan tim) menambah seru suasana HBH yang tidak jauh dari suasana kekeluargaan. Para penyelenggara sepertinya sudah siap dengan seluruh teknis pelaksanaan HBH kali ini, terbukti dengan tidak adanya masalah berarti yang timbul walaupun massanya sampai ratusan lebih.


Setelah acara HBH yang resmi berakhir, acara yang sebenarnya dimulai. Saya pribadi memang lebih suka acara2 yang informal seperti ini. Acara dimulai dengan perjalanan ke kampung daun, sebuah restoran unik yang tempatnya diapit oleh 2 buah tebing. Jadi walaupun lokasi tempatnya menurut saya sangat jauh dari kota dan jalannya yang lumayan rusak, ternyata pengunjungnya sangat ramai, malah sampai rela untuk antri. Bersama Pak Try, Pak Roni, Pak Agus Ali, Pak Ipung, Mas Anto, dan Mas Wahyu, kami ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar pukul 21:00


Setelah itu kami berangkat menuju Graha Edukasi, di daerah Daarut tauhid juga, dimana TDA Bandung mengadakan jamuan makan malam plus camilan. Acara berlangsung santai tapi seru dan seperti biasa, panitia harus bolak balik harus mengingatkan para peserta untuk segera pulang karena tempatnya akan ditutup. Tapi karena terlalu kreatif (atau nekat), walaupun sudah tidak diijinkan di dalam ruangan lagi, para peserta tetap ngumpul di luar sambil berdiri.


Setelah itu, saya beserta beberapa member TDA yang lain "bergerilya" lagi mencari tempat yang bisa dikunjungi. Mulai pemandian air panas (walaupun yang mandi cuma sedikit) sampai ke restoran2. Tak terasa saya sampai di penginapan sekitar pukul 03:30 pagi !!!

Paginya kami langsung berangkat ke Mall ATC di Bandung, dimana member TDA ditawari oleh Haji Alay, sesepuh TDA untuk menghiduupkan kembali Mall tsb bersama2. Insya Allah saya juga mengambil satu stand untuk outlet busana muslim dannis collection saya. Setelah survey di Mall ATC, akhirnya saya harus mengakhiri perjalanan yang mengesankan bersama TDA di Bandung dan kembali ke Jakarta.

Goes to Bandung

5.11.08 0 comments
Perjalanan ke Bandung dimulai dari Gambir,saya beserta salah satu finalis WMM, Hafiz (pemilik puluhan stand Es Dawet Ayu di Medan). Kami menuju Bogor dengan menggunakan KRL. Dari Bogor kami berkumpul dengan finalis WMM lainnya, Anggoro (pemilik Bakso Kepala Sapi) dan langsung menuju Bandung.

Sesampai di Bandung, sekitar pukul 18:00, setelah mencari mesjid untuk sholat dan sekalian istirahat sebentar, kami langsung menuju kantor C59 di daerah Cikaso. Setelah menunggu sebentar, om Wiwed, pemilik C59, datang dengan motor Harleynya. Dan kami ngobrol dan sampai jam 22:00.

Setelah itu karena lapar, om Wiwied mengajak pindah ke salah satu kafe milik anaknya sekalian makan malam. Obrolan seru dilanjutkan disana sampai jam menunjukkan pukul 23:30. Dan karena kami waktu itu juga janjian dgn om Perry, raja FO bandung, kami melanjutkan perjalanan ke rumah om Perry bersama om Wiwied.

Ternyata kami barusan tau kalo om Wiwied adalah gurunya om Perry. Sampai di rumah om Perry yang sangat megah, kami disambut dengan hangat oleh om Perry beserta istrinya. Obrolan pun berlanjut, dan om Perry sesuai dgn stylenya dengan semangat sharing tentang pengalamannya. Tidak terasa waktu menunjukkan jam 02.00 dini hari sampai akhirnya kami harus pamit untuk pulang.

Sebenarnya sih belum pengen pulang, apalagi kalau mendengarkan cerita kolaborasi dari om Perry dan om Wiwied yang saya yakin tidak diomongkan pada saat beliau berdua mengisi seminar. Pulang dari sana, kami langsung pusing dan mabok, karena antara bingung dan kagum dgn sepak terjang om Perry dan om Wiwied.

Kalimat om Perry yg paling saya ingat adalah "nyari duit mah gampang, asalkan duit kecil lho ya...jd ngga usah bikin bisnis yg aneh2.bisnis sederhana aja,yg penting cashflownya". Om Wiwied berpesan juga bahwa kecenderungan pengusaha sekarang maunya instant, tidak menghargai prosesnya. Makanya banyak pengusaha sekarang yang cepet naik tapi cepat pula jatuhnya.

Besoknya saya kembali ke jakarta dan langsung pulang kampung menuju Surabaya. Banyak inspirasi,semangat, ide, sinergi dan jaringan yg saya dapat selama 1 minggu ini. Dan tentunya akan banyak PR yg harus saya selesaikan untuk kemajuan Adila Group.

Penjurian WMM di Jakarta

4.11.08 1 comments
Mulai hari senin, saya dipertemukan dengan seluruh finalis WMM se indonesia di hotel millenium, Jakarta. Total peserta saat itu adalah 32 finalis yg terbagi menjadi 2 kategori, mahasiswa dan alumni.


Sebelum penjurian dilakukan, para finalis diberi pembekalan oleh Action Coach berupa seminar business rich selama 2 hari penuh. Suatu kesempatan yg sangat berharga, karena pada acara ini Bank Mandiri melalui program CSRnya mewadahi pengusaha muda untuk melakukan networking, pembimbingan 1 thn penuh oleh Action Coach, sampai kemudahan dalam hal pembiayaan dan banyak hal2 lain yg bisa disinergikan.

Di saat itu saya banyak berkenalan dengan pengusaha2 lain dari penjuru wilayah indonesia. Dan setelah mengenal lebih jauh lagi ternyata banyak finalis2 yg umurnya masih sangat muda, tapi telah memiliki bisnis yg sudah setara dgn org yg puluhan tahun berbisnis.


Bayangkan, ada seorang mahasiswa wanita dari medan yg berhasil membukukan omset sekitar 30jt per bulan.padahal bisnisnya adalah servis HP. Sebagai gambaran,penggantian spare part HP senilai 75rb bisa dikenai jasa servis hingga 800rb. Marginnya sangat tinggi.

Ada lagi mahasiswa wanita asal lampung, Sinta, yg berbisnis keripik pisang. Dengan outlet yg hanya berupa gubuk, dia bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar 40jt per bulan. Jauh lebih tinggi dari jabatan seorang manager, bahkan direktur sekalipun. Dan saat ini dia sudah membeli rumah dgn lahan seluas 1 hektar, yg rencananya jg akan dibangun kompleks ruko.


Masih banyak lagi pengusaha2 muda yg berhasil membangun bisnisnya. Dan hebatnya lagi semua dibangun dari nol, bukan merupakan bisnis warisan.

Kadang merasa minder, iri sekaligus kagum kepada mereka. Soalnya pada saat saya seumur mereka, saya belum bisa menghasilkan apa2. Tapi ini yg menyadarkan saya, karena selama ini mungkin saya sudah agak terlena dengan bisnis saya.

Dan kalau saya tetap menjalankan bisnis sesuai dgn ritme saya selama ini, bisa2 saya akan disalip oleh pengusaha yg umurnya jauh di bawah saya. Dan ini membuat saya termotivasi. Jadi harus lebih cepat, lebih tanggap dan lebih responsif.


NB1 : Banyak sekali hal positif yang saya dapatkan dari acara ini. Merupakan salah satu acara yang sangat saya sarankan khususnya bagi pengusaha muda. Bayangkan, dalam beberapa hari saya sudah memiliki network pengusaha muda di seluruh Indonesia

NB2 : Insya Allah PourVous akan segera hadir di Medan, Batam dan Palembang

Terpilih jadi wakil WMM wilayah Jatim, Bali dan Nusa Tenggara

15.10.08 0 comments
Alhamdulillah, saat ini saya dipercaya untuk menjadi finalis pemilihan Wirausaha Muda Mandiri yang diadakan oleh Bank Mandiri. Saya terpilih menjadi pemenang pertama untuk kategori alumni dan pasca sarjana dan berhak untuk mewakili wilayah Jatim , Bali dan Nusa tenggara untuk bersaing di wilayah nasional

Program ini merupakan program CSR dari Bank Mandiri untuk menggalakkan minat entrepreneurship di Indonesia. Nantinya di Jakarta Bank Mandiri juga akan memberikan pelatihan yang di support oleh Action Coach dan rencananya juga ada pembinaan selama 1 tahun.

Sebenarnya untuk pemilihan ini, istri saya, Laila yang lebih semangat untuk mengikutinya. Mulai dari mempersiapkan pendaftaran sampai dengan menyelesaikan materi presentasi. Sampai - sampai saya sendiri tidak mengetahui kapan saya didaftarkan.

Kemarin, Mas Hendy Setiono juga memberikan testimoni bahwa dengan menjadi finalis ini banyak efek positif yang didapat, terutama kesempatan untuk mendapatkan publikasi dari media. Buktinya tidak sampai 1 tahun dari mas Hendy terpilih menjadi juara WMM 2007, outlet Baba rafinya sudah bertambah lebih dari 100 unit

tapi yang jelas penghargaan ini merupakan tolak ukur bagi saya pribadi bahwa saat ini saya sudah di arah yang benar dalam mengembangkan bisnis saya, dan lebih terpacu untuk lebih mengembangkan Adila Group untuk menjadi Holding Company yang mampu berkontribusi dalam menciptakan jiwa berwirausaha di kalangan anggota timnya


NB1 : Terima kasih juga buat keluarga besar Adila Group yang pada saat pembuatan materi presentasi bersedia bekerja ekstra untuk menyelesaikannya dan hasilnya yang sangat memuaskan

NB2 : Finalis yang lolos ke seleksi nasional ternyata banyak juga yang member TDA. Membuktikan bahwa TDA sudah mampu berbicara di kancah nasional.

Semangat dagang orang padang

13.6.08 4 comments
Di dekat rumah saya (daerah mulyosari, Surabaya) ada penjual sate padang yang sangat enak, karena rasanya benar2 mirip dengan sate padang yang saya rasakan pada saat saya dibesarkan di Padang dulu.

Karena enak, maka saya menjadi salah satu langganan tetapnya, sekalian mengasah bahasa minang saya yang saat ini agak berantakan karena jarang di pake ( maklum, di surabaya udah sekitar 10 thn ).

Umurnya masih muda, 1 tahun di bawah saya (kelahiran 1982). Namanya Ajo Syafrie, dia mengembangkan usaha orang tuanya yang juga berjualan sate padang di daerah pasar turi.

Pada saat saya pertama kali kesana, ada yang menarik. Karena langsung saya ajak berbahasa miang, saat itu Ajo Syafrie langsung bertanya kepada saya ”Uda disiko kuliah ato manggaleh ?” (kakak disini kuliah atau berdagang ?).

Sebuah pertanyaan yang unik. Karena biasanya pada saat saya pertama kali bertemu dengan kenalan baru, biasanya pertanyaannya adalah "kerja dimana ?". Tapi Ajo Syafrie dengan pe-denya bertanya kepada saya seolah2 tidak ada opsi untuk menjadi karyawan. Beda dengan orang kebanyakan, biasanya khan tanyanya ”kerja dimana ?”

Dari situ kemudian saya lebih banyak ngobrol dgn Ajo Syafrie, dan saya ketahui kemudian bahwa pada waktu kecil, disaat tmn2nya masih asyik bermain, Ajo Syafrie sudah terbiasa membuat kuah sate dan membuat lontongnya.

Keluarga mereka sempet sukses hingga mengumpulkan modal ratusan juta dlm jangka waktu belasan tahun. Tapi pada saat ingin melakukan ekspansi di Lombok, modal tersebut hilang dgn cepat karena ditipu oleh mitranya.

Akhirnya sekarang keluarga mereka harus mulai dari awal lagi. tapi semua itu dijalani dgn semangat, bahkan Ajo Syafrie mengingatkan kepada saya tentang pentingnya sedekah.

Suatu pelajaran yang luar biasa......karena saya dapat dari seorang pedagang kaki lima yang menurut saya jauh lebih bijaksana dalam menghadapi hidup dibandingkan saya pribadi. Insya Allah ini akan jadi pelecut saya untuk menjadi kaya dan BERKAH.

NB : O....iya, buat yang di surabaya Ajo Syafrie bisa ditemui di Jalan Raya Mulyosari tiap malem (Di depannya McDonald)

30 hari menjadi pengusaha

0 comments
Saat ini saya dan istri (Laila Asri) sedang menjalankan aktivitas baru, yaitu syuting untuk Reality Show "30 Hari Jadi Pengusaha" (agak-agak mirip antara The Apprentice).

Acara ini adalah hasil kerjasama JTV (TV Lokal Surabaya-Jawa Pos Group) dan SEC (Surabaya Entrepreneur Club). Setelah masa persiapan selama kurang lebih 3 bulanan, akhirnya acara ini mencapai hari-H.

Acara ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah memunculkan semangat-semangat wirausaha di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Ada beberapa seleksi yang dilakukan, yaitu Walk-In Interview, Psiokotest & OutBound Challenge serta Pemilihan 10 Kandidat yang akan dikarantina selama 26 hari untuk mendapatkan dua pemenang utama (Juara I dan Juara II) dengan hadiah total senilai Rp 90 Juta rupiah (tapi bukan berupa uang tunai lho, karena tidak mendidik, melainkan berupa paket usaha)

Dan, ternyata setelah melalui seleksi awal sampai terpilih 10 Kandidat, saya merasa sangat terkagum-kagum pada sosok-sosok pemuda yang menjadi peserta sejak seleksi awal.

Ternyata, sebenarnya semangat WIRAUSAHA dan MANDIRI telah tumbuh di benak para pemuda, khususnya di Jawa Timur.

Mereka semua juga punya satu harapan nasionalisme yang sama, yaitu memajukan Indonesia dengan menjadi Wirausaha Sukses.

Ada yang sudah memiliki usaha sendiri sejak SMA, ada yang bahkan sudah pernah rugi sampai ratusan juta, ada yang anaknya pemulung, ada yang sejak kecil sering diremehkan, tapi ternyata semua menyimpan harapan yang sama, yaitu ingin SUKSES dan BERHASIL.

Jujur, saya dan istri yang terlibat sebagai salah satu Team Penggembleng (ada 7 orang : Hendy Setiono "Baba Rafi", Samurai, Danton "jagoan hosting", Riano "Reng Oneng Warung Madura, dan Mudji "Owner MD Trans".

Saya dan istri semakin merasa bahwa ini adalah tanggung jawab yang besar. Kami yang masih juga berproses dan belajar menjadi Pengusaha, saat ini dihadapkan pada orang-orang muda yang juga memiliki harapan untuk menjadi Pengusaha Sukses.

Satu hal yang pasti, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus membagi ilmu & pengalaman yang kami punya untuk siapapun. Karena kami juga punya visi "Menuju Indonesia Emas" dan itu baru bisa terwujud jika Indonesia memiliki semakin banyak dan semakin banyak Pengusaha-Pengusaha yang berjiwa Sosial dan Visioner. Amin!!!

Edited from
http://lailaasri.co.cc/