Tampilkan postingan dengan label Personal Insight. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal Insight. Tampilkan semua postingan

Awareness test

17.6.09 1 comments

Note : Hati2 dengan apa yang sedang kita pikirkan. Bisa jadi itu malah membuat kita tidak melihat sesuatu yang terjadi di hadapan kita

Albert Einstein juga ingin berdagang

6.6.09 0 comments
Albert Einstein once wrote, "If I had my life to live over again, I would elect to be a trader of goods rather than a student of science. I think barter is a noble thing. I need to know more about it."

Kutipan diatas langsung membuat saya tertegun. Seorang jenius pun menyadari dan memahami arti dari perdagangan. Padahal Rasulullah SAW sudah menyerukannya jauh-jauh hari bahwa berdagang itu adalah hal yang mulia dan rejeki itu datang dari perdagangan.

So....masih milih jalan yg lain ??

Peluang adalah apa yang tak dilirik orang

10.3.09 1 comments
Seeing is believing… kira-kira demikian yang saya alami beberapa minggu lalu saat menempuh safari bisnis ke Sumatera. Maklum beberapa media massa sejak lama telah melansir berita bahwa harta di daerah sangat berlimpah. Hasil liputan dari reporter-reporter itu sebenarnya cukup menggambarkan bagaimana denyut bisnis di daerah.

Muncul rasa penasaran. Akhirnya saya menyaksikan langsung dan langsung percaya hasil liputan-liputan itu. Jadi, saya bersaksi bahwa duit di daerah sangat berlimpah. Lampung dan Palembang menjadi tempat persaksian saya. Jangan bayangkan bahwa hanya kota tempat duit menumpuk. Sumber daya alam di daerah menjadi ihwal bagaimana duit melimpah di sana.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan ke Lampung dan Palembang. Kesaksian saya diatas merupakan hasil dari perjalanan tersebut. Bila di Lampung, saya menyaksikan orang-orang kaya bersahaja tapi tinggal jauh di pelosok. Maklum, mereka adalah petani-petani perkebunan sawit yang lahannya mencapai ribuan hektar.

Salah seorang pengusaha perkebunan sawit yang saya temui, menjamu saya dengan mengendarai mobil sekelas Taft GT saja. Padahal omzet bisnisnya tembus angka miliaran rupiah.

Disini saya melihat perbedaan antara pengusaha di kota (misalnya di kota-kota besar di Jawa) dengan di pedesaan. Para pengusaha kakap yang tinggal di pelosok bumi ini memutar bisnisnya dengan tarikan nafas bisnis yang panjang sekaligus besar. Berinvestasi di Lampung dengan membuka lahan tambak hanya dengan 6 petak saja bisa menelan dana hingga Rp2 miliar.

Padahal pemandangan yang disaksikan dari bisnis senilai miliaran rupiah ini berwajah desa sekali. Maksudnya, tak ada suasana glamor khas urban disini. “Ibaratnya satu tarikan nafas pebisnis di daerah sangat panjang dan ketika tiba saat memanen, maka hasilnya pun sangat besar. Sementara tarikan nafas pebisnis di perkotaan umumnya pendek dengan mengandalkan putaran omzet yang cepat” Jadi, kepintaran memutar modal yang dimiliki merupakan kunci pengusaha di perkotaan.


Sementara saat saya mengunjungi Palembang, saya menangkap nuansa berbeda. Aroma urban lebih kental disini. “Misalnya, saat saya berkeliling di mall yang mulai bertebaran di Palembang, sangat suasananya sudah mendekati suasana mall di Surabaya yang kelas Royal Plaza atau ITC Mega Grosir.”

Pakaian pengunjungnya? Modis. Tak beda jauh dengan penampilan saudara-saudara kita yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya. (Tapi bisa jadi suasana ini hanya muncul kala malam minggu saja. Kebetulan saya berkunjung pada saat malam minggu).

Kota dan desa akhirnya hanya menjadi kategori geografis saja. Secara demografis, masyarakat di dua kawasan ini sudah nyaris sama. Mode fashion hingga kegemaran penduduknya tak beda jauh. Sebagaimana gaya hidup kelas menengah, para pengunjung mall di kota Empek-empek tak hanya melakukan window shopping. Mereka berbelanja. Dan toko-toko yang dituju oleh mereka adalah tenant-tenant kelas internasional yang menyerbu mall-mall tersebut, seperti Bodyshop dll.

Menjamurnya mall di Palembang dimulai sejak diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang. Dari sini akselerasi bisnis Palembang menjadi lebih cepat. Bisa jadi ini terkait dengan semakin bagusnya kualitas infrastruktur. Ya... biasanya penyelenggaraan acara nasional seperti PON selalu diiringi dengan perbaikan berbagai infrastruktur daerah.

Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur oleh pemerintah menjadi stimulus bisnis di kota ini. Hal ini pula saya jumpai di Lampung. Pembangunan infrastruktur menjadi penggerak perekonomian di daerah yang terkenal dengan tambak udang terbesar se-Asia Tenggara-Dipasena ini.

“Disini, kejelian seorang konglomerat tampak. Ciputra rupanya tidak menunggu infrastruktur dibangun terlebih dahulu. Justru dia menabung sebanyak mungkin lahan untuk bisnis real estate di Lampung. Tentu dengan harga murah sebab daerahnya tak terjangkau pembangunan infrastruktur, baik jalan ataupun jembatan.”

Setelah land bank (tabungan lahan) menumpuk, rupanya bertepatan dengan pembangunan akses jalan dari lahan yang dikuasainya yang langsung menuju sebuah pelabuhan berkelas internasional. Lagi-lagi pelabuhan atau infrastruktur ini baru-baru saja pembangunannya. Entah, apakah jalur yang langsung menuju pelabuhan internasional itu dibangun karena lobi Ciputra atau bukan.

Namun yang pasti, Ciputra telah berbelanja tanah saat harganya murah yang saat sekarang harganya telah melonjak. Padahal orang lain bisa jadi enggan melirik atau bahkan membeli lahan di daerah tersebut. Saya akhirnya tersadar bahwa pengusaha selalu mengambil kesempatan sebelum orang kebanyakan melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis. Ciputra mendahului membeli tanah di sekitar sana. Padahal orang lain baru-baru saja membeli tanah disana, tentu dengan harga lebih mahal.

Peluang bisa diciptakan, jangan melihat peluang setelah orang lain menciptakan peluang tersebut. Sebab itu bukan peluang emas. Itu adalah peluang tembaga. “Segera bertindak dan kondisikan apa yang ingin dicipta sebagai peluang,” gumam saya dalam hati menginsyafi action Pak Ciputra. Takdzim buat Pak Ciputra. (HM1)

Sumber : Andi Sufariyanto, CEO PT Adila Imperium

Memberi manfaat tanpa pamrih

11.2.09 0 comments
Beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja menyaksikan sebuah acara di Metro TV . Di tayangan itu digambarkan bagaimana sepasang suami istri yang sudah cukup berumur dengan gigih mencari bibit pohon bakau. Proses pencariannya tidaklah mudah, dimana pasangan ini harus keluar masuk hutan bakau yang medannya cukup berat.

Setelah ditanya oleh reporter tayangan tersebut, sang suami mengatakan bahwa bibit bakau tersebut akan ditaman di tepi pantai disekitar rumahnya yang memang tidak seberapa jauh dari pinggir pantai. Terus si reporter bertanya lagi, kenapa kok mau repot2 menanam pohon bakau ? Jawaban sang suami cukup simpel....supaya penduduk disana tetap aman apabila suatu saat nanti diterjang ombak besar atau bahkan Tsunami.

Jawaban ini sempat membuat saya tertegun, karena dalam bayangan saya bakau membutuhkan waktu bertahun tahun untuk dapat tumbuh menjadi hutan yang cukup kuat untuk menghadang ombak besar. Padahal usia pasangan ini cukup uzur, usia dimana kebanyakan orang tidak terlalu mempunyai visi yang rentang waktunya cukup panjang, dan lebih fokus untuk mengurus dirinya sendiri bahkan yang untuk mengurus dirinya sendiri saja membutuhkan bantuan orang lain.

Ternyata pasangan ini mau untuk memberi manfaat tanpa pamrih, tidak peduli apakah mereka bisa menikmatinya atau tidak. Yang mereka ketahui hanyalah bagaimana hal yang mereka lakukan mampu bermanfaat bagi orang lain,titik.

Saya yakin Indonesia memiliki banyak orang seperti pasangan suami istri ini, tapi memang lebih banyak ke hal2 yang bersifat sosial. Alangkah indahnya apabila banyak juga muncul pebisnis - pebisnis yang bermartabat yang mampu memberikan manfaat ekonomi dalam jangka waktu yang lama dan lebih dari sekedar pencapaian/hasil yang bisa mereka nikmati.

Saya pun hari ini diingatkan lagi, pada salah satu sesi seminarnya Rhenald Kasali sempat mengatkan bahwa reputasi yang sebenarnya adalah apa yang orang lain ingat pada saat kita sudah tiada. Karena itulah bekal investasi kita di akhirat kelak.

Easy way to make your office tidy

5.1.09 2 comments
Sebenarnya masalah ini sudah lama muncul, yaitu mengenai kerapian kantor. Berbedanya standar kerapian dari masing - masing tim Adila Group menyebabkan mencari suatu barang membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Dan masalah ini sudah terjadi bertahun - tahun.

Berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari peringatan secara lisan, membuat perjanjian bersama, sampai menunjuk satu orang untuk menjadi PIC untuk mengontrol kerapian ini.

Baru kemarin saya mendapatkan ide, yaitu mendokumentasikan foto meja dan ruangan yang saya anggap rapi, kemudian menempelkannya di lokasi yang bisa dilihat oleh semua orang.

Dan hasilnya ajaib....hanya dalam waktu 1 hari semua penjuru kantor telah tertata dengan rapi. Meja-meja bersih dari berkas yang menumpuk, laci - laci bebas dari kertas yang bertebaran.

Ada satu hal yang saya pelajari, tim saya kebanyakan adalah orang - orang yang Influence (DISC Profiles) dan Visual (VAK profiles). Jadi lebih mudah bagi mereka untuk memahami gambar, dibandingkan dengan tulisan ataupun perkataan.

Intresting, isn't it ??

Ide ternyata dimana - mana

13.10.08 0 comments
Beberapa hari ini saya sedikit "direpotkan dengan banyaknya ide - ide bisnis nyeleneh yang muncul.

Ide ini datang begitu saja pada saat dan kondisi dan suasana yang berbeda. 1 minggu terakhir saja sudah ada 5 ide baru yang siap untuk diimplementasikan.

Saat ini baru saya pahami dan mengerti makna dari perkataan mentor - mentor bisnis saya sebelumnya seperti Pak Purdie, Pak Tung DW dan banyak lagi yang lainnya.

Mereka kebanyakan berkata bahwa ide itu ada dimana - mana, padahal waktu itu saya mikir bolak balik untuk mencari ide, akan tetapi ngga ketemu ketemu.

Ternyata semua itu memang ada saatnya. Dulu, saya kerepotan mencari ide bisnis. Tetapi sekarang saya disibukkan untuk melakukan manajemen ide bisnis. Mulai dari melakukan pencatatan setiap ada ide baru, sampai memutuskan ide mana yang akan dilaksanakan terlebih dahulu.

Beruntung, saat ini banyak tim dari Adila Group yang memepunyai potensi untuk menjadi pengusaha. Rencananya tim inilah nanti yang suatu saat akan menjadi CEO - CEO baru apabila nanti ide tersebut direalisasikan

Untuk itu, saya menganggap penting pelatihan SDM di lingkungan Adila Group. Malah upgrade knowledge dilaksanakan seminggu 2 kali. Hal ini ditujukan utuk memudahkan proses pendelegasian, karena saya sadar bahwa kemampuan dan waktu saya terbatas.

Tidak mungkin semuanya bisa saya tangani sendiri. Oleh karena itu saya harus mau untuk berbagi. Dan bukankah itu inti dari menjadi pengusaha.....saling berbagi dan memberi manfaat


NB : Pagi ini baru cek e-mail dan ternyata saya lolos seleksi awal perlombaan Wirausaha Muda Mandiri wilayah Jatim yang diadakan oleh Bank Mandiri. Selasa ini akan ada tahapan wawancara di Hotel Novotel Surabaya.

Pidato sang Pendiri Apple

8.10.08 0 comments
Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.

Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah.

Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.

Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.

Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan.

Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?

Mereka menjawab: "Tentu saja."

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.

Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.

Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah.

Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.

Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.

Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.

Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya.

Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna.

Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya.

Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat.

Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat.

Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah.

Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.

Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang.

Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.

Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.

Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?

Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.

Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya.

Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya - saya gagal mengambil kesempatan.

Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley .

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.

Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.

Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.

Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,

Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.

Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple.

Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda.

Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan.

Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda.

Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.

Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.

Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar."

Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.

Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada.

Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas.

Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.

Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.

Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.

Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.

Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor.

Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.

Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati.

Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita.

Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar.

Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.

Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain.

Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda.

Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.

Semua hal lainnya hanya nomor dua. Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.

Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya.

Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.

Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.

Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.

Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.

Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia )

BONUS :
When you take a risk and step out of the norm, you run the risk and sometimes you fail. But you only fail if you give up. (J Peterman)

Semangat dagang orang padang

13.6.08 4 comments
Di dekat rumah saya (daerah mulyosari, Surabaya) ada penjual sate padang yang sangat enak, karena rasanya benar2 mirip dengan sate padang yang saya rasakan pada saat saya dibesarkan di Padang dulu.

Karena enak, maka saya menjadi salah satu langganan tetapnya, sekalian mengasah bahasa minang saya yang saat ini agak berantakan karena jarang di pake ( maklum, di surabaya udah sekitar 10 thn ).

Umurnya masih muda, 1 tahun di bawah saya (kelahiran 1982). Namanya Ajo Syafrie, dia mengembangkan usaha orang tuanya yang juga berjualan sate padang di daerah pasar turi.

Pada saat saya pertama kali kesana, ada yang menarik. Karena langsung saya ajak berbahasa miang, saat itu Ajo Syafrie langsung bertanya kepada saya ”Uda disiko kuliah ato manggaleh ?” (kakak disini kuliah atau berdagang ?).

Sebuah pertanyaan yang unik. Karena biasanya pada saat saya pertama kali bertemu dengan kenalan baru, biasanya pertanyaannya adalah "kerja dimana ?". Tapi Ajo Syafrie dengan pe-denya bertanya kepada saya seolah2 tidak ada opsi untuk menjadi karyawan. Beda dengan orang kebanyakan, biasanya khan tanyanya ”kerja dimana ?”

Dari situ kemudian saya lebih banyak ngobrol dgn Ajo Syafrie, dan saya ketahui kemudian bahwa pada waktu kecil, disaat tmn2nya masih asyik bermain, Ajo Syafrie sudah terbiasa membuat kuah sate dan membuat lontongnya.

Keluarga mereka sempet sukses hingga mengumpulkan modal ratusan juta dlm jangka waktu belasan tahun. Tapi pada saat ingin melakukan ekspansi di Lombok, modal tersebut hilang dgn cepat karena ditipu oleh mitranya.

Akhirnya sekarang keluarga mereka harus mulai dari awal lagi. tapi semua itu dijalani dgn semangat, bahkan Ajo Syafrie mengingatkan kepada saya tentang pentingnya sedekah.

Suatu pelajaran yang luar biasa......karena saya dapat dari seorang pedagang kaki lima yang menurut saya jauh lebih bijaksana dalam menghadapi hidup dibandingkan saya pribadi. Insya Allah ini akan jadi pelecut saya untuk menjadi kaya dan BERKAH.

NB : O....iya, buat yang di surabaya Ajo Syafrie bisa ditemui di Jalan Raya Mulyosari tiap malem (Di depannya McDonald)

30 hari menjadi pengusaha

0 comments
Saat ini saya dan istri (Laila Asri) sedang menjalankan aktivitas baru, yaitu syuting untuk Reality Show "30 Hari Jadi Pengusaha" (agak-agak mirip antara The Apprentice).

Acara ini adalah hasil kerjasama JTV (TV Lokal Surabaya-Jawa Pos Group) dan SEC (Surabaya Entrepreneur Club). Setelah masa persiapan selama kurang lebih 3 bulanan, akhirnya acara ini mencapai hari-H.

Acara ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah memunculkan semangat-semangat wirausaha di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Ada beberapa seleksi yang dilakukan, yaitu Walk-In Interview, Psiokotest & OutBound Challenge serta Pemilihan 10 Kandidat yang akan dikarantina selama 26 hari untuk mendapatkan dua pemenang utama (Juara I dan Juara II) dengan hadiah total senilai Rp 90 Juta rupiah (tapi bukan berupa uang tunai lho, karena tidak mendidik, melainkan berupa paket usaha)

Dan, ternyata setelah melalui seleksi awal sampai terpilih 10 Kandidat, saya merasa sangat terkagum-kagum pada sosok-sosok pemuda yang menjadi peserta sejak seleksi awal.

Ternyata, sebenarnya semangat WIRAUSAHA dan MANDIRI telah tumbuh di benak para pemuda, khususnya di Jawa Timur.

Mereka semua juga punya satu harapan nasionalisme yang sama, yaitu memajukan Indonesia dengan menjadi Wirausaha Sukses.

Ada yang sudah memiliki usaha sendiri sejak SMA, ada yang bahkan sudah pernah rugi sampai ratusan juta, ada yang anaknya pemulung, ada yang sejak kecil sering diremehkan, tapi ternyata semua menyimpan harapan yang sama, yaitu ingin SUKSES dan BERHASIL.

Jujur, saya dan istri yang terlibat sebagai salah satu Team Penggembleng (ada 7 orang : Hendy Setiono "Baba Rafi", Samurai, Danton "jagoan hosting", Riano "Reng Oneng Warung Madura, dan Mudji "Owner MD Trans".

Saya dan istri semakin merasa bahwa ini adalah tanggung jawab yang besar. Kami yang masih juga berproses dan belajar menjadi Pengusaha, saat ini dihadapkan pada orang-orang muda yang juga memiliki harapan untuk menjadi Pengusaha Sukses.

Satu hal yang pasti, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus membagi ilmu & pengalaman yang kami punya untuk siapapun. Karena kami juga punya visi "Menuju Indonesia Emas" dan itu baru bisa terwujud jika Indonesia memiliki semakin banyak dan semakin banyak Pengusaha-Pengusaha yang berjiwa Sosial dan Visioner. Amin!!!

Edited from
http://lailaasri.co.cc/