Apa yang sebenarnya dicari oleh para investor
15.8.11 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 02.41 2 commentsCatatan dari acara GEPI dan RES
2.8.11 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 06.06 2 commentsRES adalah rangkaian acara yang diadakan oleh GEPI, dimana sebelumnya juga diadakan kompetisi bisnis, dimana peserta dihadapkan oleh 12 orang juri yang semuanya berasal dari US dan berprofesi sebagai Angel Investor / VC (Venture Capitalist) / PE (Private Equity). Kebetulan saya juga termasuk salah satu finalist yang terpilih.
GEPI adalah bentukan dari Barrack Obama, yang tujuannya adalah mengembangkan enterpreneurship khususnya di emerging market, dan Indonesia adalah negara kedua setelah Mesir.
Acara RES dihadiri oleh ratusan pengusaha dunia, dan mayoritas dihadiri oleh pengusaha Indonesia. Disana juga dihadiri oleh banyak pengusaha besar Indonesia yang juga didapuk untuk sharing dihadapan peserta.
Inti dari acara tersebut adalah bahwa semua sepakat bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat besar, bahkan diprediksi tahun 2030 Indonesia akan menjadi lima besar ekonomi dunia. Tahun 2011 GDP Indonesia diprediksi mencapai $ 3.000 , bahkan di Jakarta saat ini sudah mencapai GDP $ 5.000. Menurut banyak ahli titik $ 3.000 adalah sinyal, dimana akan muncul kelompok middle class society yang cukup besar dan mereka memiliki high buying power.
Permasalahannya adalah dengan potensi yang sedemikian besar, banyak pengusaha Indonesia yang belum sadar dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh saat ini. Dengan semakin tingginya kompetisi usaha dan diiringi oleh globalisasi, pengusaha kita tidak hanya berkompetisi dengan pengusaha lokal lainnya, akan tetapi juga oleh pengusaha Internasional.
Akan menjadi bahaya jika Indonesia hanya menjadi market konsumsi yang besar akan tetapi tidak diiringi dengan tumbuhnya industri lokal, karena Indonesia dengan populasi yang sangat besar, tidak bisa menjadi negara trader seperti Singapura, karena kita butuh untuk membuka lapangan kerja yang banyak agar terjadi pemerataan ekonomi, dan tidak hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang.
Dengan potensi ini maka para delegasi US menjajaki kemungkinan untuk menanam investasi di negeri tercinta ini. Dan salah satu pemenang kompetisi GEPI langsung mendapat komitmen investasi yang katanya mencapai $ 1juta dan bisnis yang dibiayai adalah startup, bukan skala growth. Ini membuktikan bahwa para investor luar tidak hanya tertarik untuk menanam investasi dalam skala besar, akan tetapi juga skala menengah. Dan investasi itu berupa equity investment, bukan loan investment.
Selain dari siapnya infrastruktur dan personal development, inilah salah satu hal penting yang dibutuhkan oleh pengusaha Indonesia saat ini. Untuk pembiayaan, bank bukanlah opsi, khususnya perusahaan yang berada di posisi start up atau early growth stage. Joke seorang pengusaha Malaysia mengatakan "banks only lend you an umbrella when there is a sunshine and they take it back when it rains ". Dan pada saat investor sudah siap, pastikan kita sudah siap dengan perencanaan bisnis kita, because when you fail to plan, you'll plan to fail ( tidak usah memperdebatkan otak kanan or otak kiri, yang jelas menggunakan seluruh kemampuan otak kita jauh lebih baik daripada menggunakannya setengah2 :P )
Thanks
Mampukah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
20.12.10 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 07.23 2 commentsAkan tetapi sayangnya, saat ini perkembangan kaum urban lebih banyak di sisi gaya hidup/lifestyle. Hal ini ditunjang juga dengan akses informasi yang semakin merajalela, mulai dari media cetak sampai dengan media elektronik. Konsumen banyak dimanjakan oleh berbagai barang yang canggih dan mahal dan membuat mereka merasa harus memilikinya walaupun sebenarnya tidak membutuhkannya. Belum lagi pengaruh kultur gengsi yang cukup menjadi makanan empuk bagi para pemasar turut "memperparah" keadaan ini.
Apa sebenarnya efek negatif dari "booming" ini? Faktanya adalah walaupun secara pasar Indonesia sudah siap, akan tetapi secara produsen/manufaktur kesiapannya jauh dari kata siap, apalagi industri UKM. Banyak sekali faktor pemicunya, mulai dari pemerintah, infrastuktur sampai dengan mindset pebisnis itu sendiri. Makanya saat ini bisa kita saksikan kaum urban lebih memilih "dijamu" oleh banyak merk asing, baik berupa produk ataupun jasa.
Sebagai contoh dari sektor wisata, bisa kita survey persentase orang Indonesia yang sudah penah ke Singapore atau Malaysia, akan tetapi belum pernah ke Lombok atau Raja Ampat. Menyedihkan memang, apabila globalisasi konsumsi tidak diiringi dengan globalisasi industri. Tentunya hal terakhir yang ingin kita lihat adalah rakyat Indonesia hanya menjadi penonton, sementara pelakunya didominasi oleh orang asing. Korea adalah contoh nyata apa yang terjadi jika industri lokal diiringi dengan konsumsi lokal yang tinggi.
Saatnya menjadi konsumen sekaligus pelaku bisnis yang cerdas......Apakah yang saya lakukan bermanfaat untuk Indonesia dan juga baik untuk saya ??
Simply Love Indonesia
Visi, ikhtiar dan ikhlas
7.8.10 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 18.26 1 commentsJamaah semakin padat menyesaki masjid tersebut. Tiba- tiba pandangan saya berhenti di satu titik shaf bagian tengah. "Hmm....sepertinya itu tempat yang saya inginkan", itulah yang namanya VISI.
Kemudian saatnya menyusun strategi jalan mana yang akan saya tempuh untuk mencapai posisi itu. Jalan yang paling sedikit hambatannya, sehingga mempercepat langkah saya untuk sampai ke tujuan. Yupp....saya harus berkompetisi dengan ratusan jamaah lain yang juga harus antri untuk mendapatkan shafnya........itu namanya IKHTIAR.
Sembari mendengarkan khotib lagi, sekilas ada pikiran......bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau setelah saya maju ke depan, ternyata tidak ada tempat sama sekali? Haruskah saya membuat target yang lebih masuk akal, seperti mengambil koran bekas dan shalat di luar seperti para jamaah lain yang tidak mendapatkan shaf di dalam? Doa pun saya panjatkan...."Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk shalat di shaf yang hamba inginkan....atau tempat dimanapun yang menurut Engkau paling baik...". Itu namanya IKHLAS.
Setelah khotib selesai ceramah, qomat pun berkumandang.....saatnya eksekusi. Berlombaan dengan puluhan ( kalau tidak ratusan ) jamaah lain yang berebut untuk mendapatkan shaf yang tersisa. Shaf demi shaf saya lalui sampai akhirnya menemukan tempat yang hanya pas untuk satu orang....Alhamdulillah. Setelah tenang, saya melihat sekeliling..terlihat beberapa jamaah yang belum beruntung dan harus mau untuk shalat di area parkir. Kemudian saya perhatikan shaf tempat saya berdiri saat ini, ternyata shaf yang persis sama dengan tempat yang saya bayangkan padasaat duduk di anak tangga tadi......Subhanallah. Ketika hendak mengucapkan niat, ternyata di depan saya masih ada tempat yang kosong. Yesss....lebih maju satu shaf dari target yang ditetapkan. Mungkin memang ini tempat yang terbaik bagi saya.
Setelah shalat pun saya merenung, kalau tadi saya bisa....harusnya di hal lain juga bisa, seperti dalam urusan bisnis. Now, it's time to get action.
Ada gula ada semut
24.6.10 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 13.58 0 commentsBagi Apple, untuk sampai ke tahap ini tentunya bukan perkara mudah. Setelah dibombardir oleh Bill Gates dan Microsoftnya, rasanya sekarang saatnya bola itu berputar. Microsoft semakin hari semakin pusing dengan gebrakan yang dilakukan oleh Apple karena sangat menggerogpti bisnis yang mereka jalankan. Belum lagi Microsoft juga harus head to head dengan grup Google dan jaringannya.
Kesuksesan Apple dengan Ipadnya berbanding terbalik dengan Microsoft yang sampai saat ini belum juga merilis komputer tabletnya walaupun rumornya sudah ada dari dulu, dan sudah sempat menjadi topik hangat di Youtube.
Pelajaran yang saya dapat disini adalah, dari awal Apple memberi akses seluas luasnya kepada developer independen untuk ikut berkontribusi dan berbagi keuntungan dengan berjualan di Itunes. Belum lagi di Itunes kita juga bisa membeli music, film, bahkan serial TV. Dan jangan lupa kekuatan dari Podcastnya yang rata rata gratis. Jadi Apple tidak bisa besar sendiri, dia bisa besar jika membuat bisnis lain juga ikut besar. Dan begitu gulanya sudah terlihat, tidaklah sulit untuk membuat semut untuk ikut berkumpul.
- Posted using BlogPress from my iPhone
Sedang krisis? Jangan potong budget SDM anda
18.3.10 Diposting oleh Andi Sufariyanto Jam 07.02 0 comments Setiap bisnis pasti mengalami saat surut, dimana semua biaya yang keluaar harus diperhitungkan dengan cermat dan efisien. Biasanya pos pertama yang akan dievaluasi oleh perusahaan adalah divisi SDM, karena ini memang merupakan cara yang paling mudah dan paling cepat untuk mengurangi biaya perusahaan. Perusahaan tinggal menunda jadwal training, atau memberhentikan beberapa orang dan biaya operasional serta merta akan turun.
Alih-alih menurunkan budget untuk training SDM, sebenarnya banyak hal lain yang bisa dilakukan. Di divisi pemasaran, apakah semua kegiatan pemasaran dan penjualan sudah terukur efektifitasnya? begitu pun di divisi yang lain, apakah inventory sudah diukur dengan EOQ (Economic Order Quantity), ROP (Re Order Point) serta Safety Stocknya? Atau apakah AR (Account Receiveable) dan AP (Account Payable) sudah diatur dengan cermat? Dan banyak lagi hal yang bisa dicermati untuk meningkatkan efisiensi dari perusahaan. Memang hal ini biasanya jaranng dilakukan oleh perusahaan karena butuh proses dan butuh data-data pendukung. akan tetapi ibarat orang sakit, cara penyembuhan alami jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian antibiotik dosis tinggi.
Untuk itu teruslah lakukan training, jangan pernah menurunkan standart kompetensi karyawan. Krisis tidak berlangsung selamanya, dan pastikan pada saat krisis berakhir, kita sudah memiliki team yang siap berlari kencang. Dan kalaupun harus melakukan perampingan, pastikan bahwa itu memang cara terakhir yang harus dilakukan.